5 Perusahaan Batu Bara RI Tercuan, Labanya Bikin Gak Kedip

Batu Bara Black Diamond (Dok: Black Diamond Resources)

Harga komoditas energi global yang melonjak tinggi tahun lalu menjadi berkah bagi perusahaan tambang batu bara yang ramai-ramai mencatatkan kinerja keuangan fantastis tahun lalu.

Sepanjang tahun lalu, harga batu bara acuan global ICE kontrak dua bulan sempat beberapa kali mencatatkan rekor harga tertinggi dengan pucuknya dicatatkan awal bulan September di harga US$ 464 per ton.

Harga tinggi tersebut disebabkan oleh meningkatkan permintaan batu bara dari berbagai penjuru dunia, termasuk Eropa yang sempat dilanda krisis energi akibat meletusnya perang antara Rusia dan Ukraina.

Sepanjang tahun lalu, terdapat lima emiten yang mampu membukukan laba bersih di atas Rp 10 triliun. Angka tersebut sangat fantastis, dan bahkan masuk jajaran perusahaan publik paling menguntungkan bersaing dengan nama-nama besar dari sektor perbankan.

Adaro Energy Indonesia (ADRO) tercatat sebagai emiten dengan laba bersih tertinggi atau mencapai Rp 44,01 triliun. Angka tersebut bahkan lebih besar dari raihan emiten paling berharga di Indonesia dari sisi kapitalisasi pasar, Bank Central Asia (BBCA), yang laba bersihnya tahun lalu nyaris menembus RP 41 triliun.

Tidak hanya itu margin laba bersih (NPM) perusahaan juga terdongkrak tajam akibat lonjakan harga batu bara global. NPM Adaro tahun lalu nyaris mencapai 35%, naik signifikan dari catatan tahun sebelumnya 25,76%.

Selanjutnya ada emiten milik Low Tuck Kwong yang meski belum melaporkan kinerja setahun penuh, namun dalam sembilan bulan pertama tahun lalu torehan labanya telah mencapai Rp 24,81 triliun. Sementara itu, secara kumulatif dalam empat kuartal terakhir (LTM), laba bersih BYAN tercatat mencapai Rp 33,81 triliun.

Selanjutnya ada emiten yang tergabung dalam konglomerasi Grup Astra, United Tractors (UNTR), yang laba bersihnya tahun lalu melonjak 117% menjadi Rp 22,78 triliun. Sebagai catatan, selain bergerak di sektor penambangan batu bara, bisnis utama perusahaan termasuk penyediaan alat berat yang ikut merasakan durian runtuh akibat peningkatan permintaan oleh perusahaan tambang selama reli komoditas berlangsung.

Di peringkat keempat ada emiten milik taipan asal Thailand pemilik Banpu Group. Laba bersih Indo Tambangraya Megah (ITMG) tercatat melonjak 176% menjadi Rp 18,68 triliun tahun lalu. Selain itu kinerja operasional perusahaan juga semakin efisien dengan NPM tahun lalu naik menjadi 33% dari sebelumnya 23%.

Catatan laba bersih UNTR dan ITMG tersebut lebih besar dari pada Bank Negara Indonesia (BBNI) yang tahun lalu juga melonjak tajam, naik 68% menjadi Rp 18,48 triliun.

Terakhir ada emiten tambang batu bara BUMN, Bukit Asam (PTBA), yang sepanjang tahun lalu mencatatkan kenaikan laba bersih 59% menjadi Rp 12,78 triliun. Sebagai catatan, laba bersih tersebut lebih besar dari pada gabungan laba bersih Unilever Indonesia (UNVR) dan Bank Syariah Indonesia (BRIS).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*