Benar! Air Products Mundur di Proyek Hilirisasi Batu Bara RI

Chaiman, President & CEO Air Products, Seifi Ghasemi Saat Groundbreaking Proyek Hilirisasi Batu Bara Menjadi Dimetil Eter, Kab. Muara Enim, Senin (24/1/222). (Tangkapan Layar Youtube Sekretariat Presiden)

Kabar mundurnya Air Products and Chemicals, Inc dari konsorsium proyek hilirisasi atau gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) di Sumatera Selatan (Sumsel) benar adanya. Hal itu diungkapkan langsung oleh manajemen PT Bukit Asam Tbk (PTBA).

Mundurnya Air Products yang merupakan perusahaan asal Amerika Serikat itu dinyatakan melalui surat yang dikirimkan kepada pemerintah Indonesia.

Sebagaimana diketahui, Air Products and Chemicals Inc membentuk konsorsium bersama dengan PTBA dan juga PT Pertamina (Persero) untuk mendirikan perusahaan patungan yang bergerak di bidang bisnis pengolahan batu bara dan produk turunan batu bara di Sumatera Selatan.

Direktur Pengembangan Usaha PTBA, Rafli Yandra mengatakan pihaknya masih akan tetap berkomitmen menjalankan proyek gasifikasi sesuai arahan pemerintah. Sekalipun terdapat salah satu konsorsium yang mengundurkan diri.

“Jadi mengenai proyek coal to DME ini memang ada surat dari Air products untuk mundur sejauh ini kami belum klarifikasi tetapi kami sudah diskusikan dengan Kementerian terkait dan ini masih berproses bahwa kami tetap melanjutkan,” kata dia dalam konferensi pers, Kamis (9/3/2023).

Lebih lanjut, Rafli mengatakan proyek coal to DME merupakan langkah perusahaan dalam menjalankan pemerintah dalam bidang hilirisasi batu bara. Hal ini dilakukan sebagai upaya perusahaan untuk berkontribusi dalam memenuhi energi nasional.

Sebelumnya pada Selasa (7/3/2023), mendadak Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mengundang Menteri Investasi Bahlil Lahadalia membahas mengenai program hilirisasi batu bara.

Menteri Bahlil mengatakan bahwa Presiden Jokowi meminta agar proyek gasifikasi batu bara Dimethyl Ether (DME) di Sumatera Selatan dipercepat. Pasalnya, ini penting untuk mengurangi impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) RI yang mencapai 6-7 juta ton per tahunnya.

“Kami melakukan rapat dengan Presiden, khususnya yang pertama kami membahas tentang percepatan investasi di bidang hilirisasi dalam konteks DME low calorie sebagai substitusi impor dari LPG. Dan Bapak Presiden memerintahkan kami untuk melakukan percepatan, ini adalah bagian dari mengoptimalkan batu bara low calorie untuk pergantian DME kita, karena kita tahu kita masih impor (LPG) sekitar 6 – 7 juta ton per tahun dan perlahan kita akan kurangi impor dari substitusi DME,” paparnya saat ditemui di Istana Presiden, Jakarta, Selasa (07/03/2023).

Dia mengatakan, salah satu tantangan dalam proyek ini yaitu terkait perhitungan karbon yang dihasilkan dari proyek ini, termasuk rencana perdagangan karbon yang akan dilakukan di pasar bursa. “Ini masih ada perhitungan tentang karbon aja yang belum clear, jadi sebentar lagi akan selesai,” ucapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*