Konsumsi Domestik Loyo, Inflasi China Melandai Jadi 1%

Orang-orang melewati bendera nasional China di sepanjang gang menjelang Kongres Partai Komunis ke-20, di Beijing, China, Selasa (11/10/2022). Partai Komunis China (PKC) bakal menyelenggarakan kongres lima tahunan mereka yang ke-20 pada 16 Oktober mendatang. (Photo by JADE GAO/AFP via Getty Images)

Inflasi China melambat pada Februari karena konsumen masih tetap berhati-hati mengeluarkan uang mereka meskipun kontrol pandemi nol-Covid yang ketat telah berakhir tahun lalu.

Berdasarkan data resmi Biro Statistik Nasional (NBS) yang dirilis Kamis (9/3/2023), menunjukkan inflasi tahunan (year-on-year/yoy) Februari 2023 tercatat 1%, sekaligus menjadi laju paling lambat sejak Februari 2022. Inflasi itu turun dari bulan sebelumnya sebesar 2,1% yoy.

Inflasi pada Februari juga berada di bawah estimasi dalam jajak pendapat Reuters sebesar 1,9% yoy. Adapun, pemerintah telah menetapkan target inflasi pada 2023 sebesar 3%.

Inflasi tahunan inti, tidak termasuk harga makanan dan energi, tercatat 0,6% yoy pada Februari, turun dibandingkan dengan 1% pada Januari. Angka ini mencerminkan permintaan domestik yang kian lemah.

Secara bulanan (month-to-month/mtm) terjadi deflasi 0,5% pada Februari 2023, berbalik dari inflasi 0,8% mtm pada bulan sebelumnya dan di bawah ekspektasi inflasi sebesar 0,2% mtm.

Sementara itu, Parlemen China telah menetapkan target pertumbuhan ekonomi secara konservatif yakni sekitar 5%. Hal ini menjadi sebuah tanda bahwa pembuat kebijakan menyadari terdapat hambatan ekonomi yang masih sulit untuk diselesaikan.

Perekonomian terbesar kedua di dunia itu telah mengalami pemulihan tentatif dari gangguan Covid-19 sambil menghadapi permintaan yang lebih lemah di luar negeri dan penurunan properti domestik.

Ekonom mengatakan China tetap akan melihat tekanan inflasi dalam beberapa bulan mendatang, sebagian besar berkat berakhirnya upaya untuk menekan Covid-19.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*